The Truth Is


“UHH, apaan sih, mentang-mentang udah terkenal sekarang gue ditinggal gitu?” gumam Shayna gusar. Shayna adalah teman sejak kecil Dicky. Mereka adalah sahabat, yang selalu bersama-sama. Dari kecil mereka sudah sering main layangan bareng, main ini itu bareng. Bahkan mereka pernah dikejar seseorang yang Shaynam, tinggi besar seperti raksasa karena tidak sengaja memecahkan kaca mobil orang itu. Dicky dengan gagahnya menarik Shayna ke belakangnya untuk sembunyi, walaupun akhir-akhirnya Shayna masuk ke got, sih. Tapi tetap saja.
“Udah deh, sabar. Dia kan sibuk.” Kayla menanggapi dengan malas.
“Gue tau, tapi masalahnya Kay, lo tau sendiri dia tuh dulu baik banget. Sekarang apaan, bbm aja di read doang!” Shayna memelototi blackberry-nya dengan geram, seakan-akan itu salah bbnya, bukan salah Dicky.
“Masa lo gak seneng sih dia jadi terkenal, Dicky kan sekarang udah keren gitu. Tadinya item-item gimana gitu.” Kayla terkekeh geli.
Shayna cemberut. “Apasih lo. Lo tau gue udah ada affair sama dia sejak dulu.” Katanya.
“Er, oke.” Kayla tertawa. “Tapi serius gue lebih suka Bisma.”
Shayna memutuskan untuk tidak menjawab dan memainkan hpnya lagi, desperately nge-ping bbm Dicky. Shayna udah gondok banget... Ketika Dicky membalas.
Dicky
Sori, abis tampil di DeRings. Lo nonton kan Shay?
Shayna mengerutkan kening. What? Boro-boro gue tau, lo bilang aja engga. Pikirnya sinis dalam hati.
Shayna
Lo ga bilang ke gue, mana gue tau Ky.
Ia meninggalkan hpnya dengan gusar lalu mulai mengobrol hal-hal yang tidak jelas dengan Kayla.  Shayna tidak memedulikan bbnya yang bergetar-getar dengan gilanya. Ia juga tidak mau berharap banyak itu Dicky. Palingan juga BM.
“Na, bb lo geter mulu tuh. Berisik.” Kayla bergumam. Ia memang akan tidur, berhubung waktu menunjukkan pukul 2 siang dan saat itu hari sedang panas-panasnya. Memang lebih enak nyalain AC lalu tidur.
“Paling bm Kay.” Shayna bergumam malas.
“Coba aja liat. Atau engga lo matiin bbnya. Males tau dengernya ntar gue kebangun gimana.” Kata Kayla yang segera tertidur pulas.
“Ga punya perasaan ya lo...” Shayna berbicara pada dirinya sendiri lalu mengambil hpnya. Ia melihat ada 4 bbm masuk dan 13 missed call. Shayna memutuskan untuk mengeceknya.
BBM dari Janice, Gina, Josh dan... Dicky. Jantung Shayna langsung berdetak cepat melihatnya. Astaga. ASTAGA DICKY BBM GUE LAGI. Pikirnya. Ia agak panik, tapi juga senang. Dengan cepat ia mengecek bbm dari dicky.
Dicky
Shay, kita jalan yuk
Dicky
Gue jemput lo jam 3
Dicky
Shay gue telponin kok ga bales-bales sih
Dicky
PING!!!
Shayna speechless. “ASTAGA DICKY NGAJAK GUE JALAN!” Ia menjerit setelah beberapa lama memproses apa yang baru dia baca. Ia buru-buru membalas ‘Oke, gue tunggu’ ke Dicky dan menjerit penuh kemenangan.
“WOI BERISIK!” Kayla menjerit dan melempar bantal ke muka Shayna yang tidak peduli sama sekali. Shayna melihat jam dan menjerit lagi.
“What the, udah jam 2.15? Kay, gue mau pergi. Dicky ngajak jalan.” Kata Shayna panik dan langsung ngibrit ke kabar mandi, meninggalkan Kayla yang terbengong-bengong.
Kayla tertawa. “Dasar, udah kangen banget ya sama Dicky.”
Jam 3 kurang 15 menit, Shayna sudah siap. Ia dan Kayla menunggu di ruang tamu ketika mendengar suara bel di depan. Itu Dicky. Shayna lari ke gerbang dan membuka pintunya lalu memeluk Dicky erat-erat.
“DICKY! Astaga gue kangen sama lo.” Shayna tertawa.
“Ah, gue kan emang ngangenin.” Dicky menjulurkan lidahnya.
“Engga, kalo misalnya lo bales bbm gue dan nelpon gue juga setelah lo terkenal kan gue gabakal kangen.” Kata Shayna polos. Dicky menatapnya dan tersenyum kecil.
“Maaf ya Shay. Gue juga kangen sama lo, tapi... Ya, gue sibuk banget.”
“Ky! Gue titip salam sama Bisma.” Kata Kayla dari depan rumah. “Sukses ya date nya.” Ia tersenyum nakal dan Dicky memutar bola matanya.
“Udah diemin aja.” Kata Shayna licik. “Bye Kayla sayang! Kunci pintu ya MUAH!” lanjutnya dengan semangat dan melambai-lambai.
“Masuk, Shay.” Kata Dicky yang sudah terbiasa dengan hypernya Shayna. “Kayanya udah gue bilang pagi-pagi jangan makan coklat.” Kata Dicky sambil menyalakan mobil.
“Abis gue beteeee.” Shayna cemberut. “Ngomong-ngomong kita mau kemana ya?” tanyanya, merasa malu karena di ajak jalan tapi tidak bertanya tujuannya. Main bilang iya aja.
“PVJ paling.” Dicky tertawa. “Lo mau ga jalan sama anak SM*SH yang lain?”
“Well...” Shayna mengangkat bahu. “Gue sih mau-mau aja. Bisma juga ganteng... Banget.” Katanya iseng. Menurutnya sih Bisma biasa aja, Dicky tetep the best. Tapi ya, namanya juga iseng.
“Gantengan gue sih.” Kata Dicky, merasa Shayna menurunkan ego nya sebagai seorang laki-laki.
“Dih, sensi banget lo. Eh gue yang pilih musiknya.” Kata Shayna, tidak menunggu jawaban Dicky namun mengambil satu CD dan menyetelnya.
“Gasopan lo.” Dicky tertawa. Ia hanya bercanda. Shayna memang boleh melakukan apa saja di mobil ataupun di rumahnya. Mereka sudah seperti saudara, walaupun sesungguhnya Dicky berharap lebih. Ya... Dicky suka Shayna.
Mereka berdua saling suka, tapi mereka tidak pernah mengakuinya. Paling tidak, mereka tidak mengakuinya ke sesama. Jadi hanya teman-teman mereka yang tahu. Mana mungkin mereka jadian kalau salah satunya tidak bilang?
Sebenarnya Dicky mau-mau saja nembak Shayna, tapi yaa, Dicky takut Shayna menolak lalu hubungan mereka tidak seperti ini lagi. Akan jadi kaku dan sangat awkward. Dicky takut.
Dicky menghela napas dan mendengarkan Shayna bernyanyi.  Lagunya Mary’s Song (Oh My My My) oleh Taylor Swift. Dicky tidak terlalu tertarik untuk mendengarkan lagu Taylor Swift, tapi ia meletakkan CD Taylor Swift di mobilnya agar Shayna yang gila Taylor Swift bisa mendengarkan lagunya.
She said, 'I was seven and you were nine
I looked at you like the stars that shined
In the sky, the pretty lights'
Dengan segera Dicky teringat saat itu... Ketika papa dan mamanya Dicky mengenalkannya dengan Shayna.
“Ayo gih kalian kenalan.” Mama Dicky membujuknya.
“Gamau ah ma...” Dicky berkata malas. Ia hanya memperhatikan gadis kecil itu yang menatapnya bingung.
“Mom, I don’t want to talk to him. He’s got cooties.” Kata gadis kecil itu merengek. Ibu Shayna memang orang Inggris, makanya Shayna bisanya bahasa Inggris. Dicky bisa berbahasa Inggris. First Language-nya adalah Inggris karena ia diajarkan oleh ibunya yang ingin ia sukses ketika besar nanti.
“What? Why cooties. I don’t have cooties.” Kata Dicky marah.
“You do...” kata gadis itu.
“Go on, sunshine. Boys don’t have cooties, anyway.” Kata Janet Kuncoro, mamanya Shayna.
“Ok... Mom.” Kata gadis itu setengah hati. Ia mendekati Dicky, namun masih menatap lantai. “Um, my name is Shayna.”
“I’m Dicky.” Kata Dicky.
“Um... Nice to meet you.” Kata Shayna dan saat itu Shayna menatap mata Dicky. Mereka menatap mata masing-masing dalam waktu yang cukup lama. Kenapa?
Dicky melihat mata Shayna bersinar indah. Indah seperti lampu gedung-gedung di malam hari, seperti kunang-kunang.
“Nice to meet you too.”
And our daddies used to joke about the two of us
Growing up and falling in love
And our momma smiled and rolled their eyes
.
And said, 'Oh, my, my, my'
Dicky tertawa kecil, sambil tetap menyetir ia mengingat berbagai kenangan saat sedang bersama Shayna.
“Kalian main berdua terus. Shayna, sweetie, you don’t want to play with the girls?” tanya Pak Kuncoro, papa Shayna.
“No daddy, Dicky is cool.” Kata Shayna senang.
“How about you, Dicky? Ga mau main sama Josh dan lain-lain?” tanya Papa Dicky.
“Nope Dad. Shayna aja udah cukup, mereka gaseru.”
Papa mereka berpandangan dan tertawa. “Ah... Then we will just have to wait, I guess.” Kata Papa Shayna.
“Wait for what, Daddy?” tanya Shayna bingung.
“Apa Om?” tanya Dicky bingung.
“The wedding, of course.” Kata Papa Shayna geli.
“Ya, kalian kalau sudah besar pasti akan menikah. Trust me.” Kata Papa Dicky senang.
“WHAT!” Shayna menjerit. “I am so not going to marry him. Kita ga temenan lagi, Dicky. I don’t want to marry you.”
“What, I don’t wanna marry you either.”
Mama mereka tertawa dan memutar bola matanya. “Oh, My.”
“They are old farts, sweetie. You don’t have to marry each other.” Kata Mama Shayna lembut.
“Really?” tanya Shayna.
“Yeah, really.”
“Okay. Dicky, I’m sorry.”
“Me too.” Kata Dicky. Mereka kembali bermain balok, membentuk kastil dan lain-lain.
Take me back to the house in the backyard trees
Said you would beat me up, you were bigger then me
You never did, you never did
Take me back when our world was one lot bad
I dared you to kiss me and ran when you tried
Just two kids, you and I, oh, my, my, my, my
Dicky teringat hari itu. Mereka sama-sama berumur 12 tahun, dan hari  itu hari ulang tahun Kayla. Dicky ingat, Kayla marah karena Dicky dan Shayna mendiamkannya karena mereka terlalu senang bermain berdua saja.
“Kalian jahat!” Kayla marah-marah.
“Sorry, Kay.” Kata Shayna.
“Shay, let’s run. Get away from her. She’s EVIL!” bisik Dicky.
“Yes.” Shayna menangguk. “Kabur kemana?”
“Well, kita lari ke rumah pohonnya!” katanya.
“Sorry, Kay, you’re really evil now. Aku gamau nemenin, sama Dicky aja.” Kata Shayna polos. Mereka lari ke rumah pohon dan Dicky segera naik.
“C’mon Shay. Kamu tuh lelet banget, aku aja bisa ngalahin. Gimana sih.” Kata Dicky, berusaha menyemangati Shayna dengan caranya sendiri. Shayna berusaha untuk naik juga tapi ia terpeleset dan jatuh.
“Ouch! Dicky... It hurts.” Ia sesenggukan.
“Don’t cry. I’ll help you.” Kata Dicky dan ia kembali melompat turun. Ia mengecek lukanya dan membersihkan luka Shayna, lalu mencium lukanya. “Mom always kissed my wounds. It will be better.”
“Thanks.” Kata Shayna tersenyum.
“You’re welcome.” Dicky tertawa kecil. “Terus, aku dapet apa nyembuhin kamu?”
“Hmm...” Shayna menutup matanya, berpikir. Lalu senyum licik muncul di bibirnya. Ia tertawa dan menatap Dicky. “You could kiss me. I know you want to.”
Wajah Dicky merah merona sekarang. Shayna tau Dicky suka Shayna dan katanya orang yang saling suka boleh mencium pipinya... Kayla yang bilang. “I could?” tanya Dicky.
“Sure. Now, one two...” Pada hitungan ketiga, Dicky maju untuk mencium pipi Shayna tapi Shayna tidak ada. Ia mencari-cari Shayna dengan panik dan melihat Shayna berlari ke arah rumah Kayla.
“Poor ya! Not getting any!” katanya nakal.
Well, I was sixteen when suddenly
I wasn't that little girl you used to see
But your eyes still shined like pretty lights
“Happy birthday Shayna! Ah, now you’re sixteen!” kata Dicky senang.
Shayna memutar bola matanya. “Dicky, udah deh, gausah gitu. Kenapa sih lo masih ngomong sama gue pake bahasa Inggris? I mean, lo liat kan temen-temen mandang kita aneh gitu?”
Dicky mengerutkan keningnya. “Shay?”
“Denger... Lo jangan ngomong sama gue pake bahasa Inggris lagi. Ayolah Dickyyy, lo masih ga bisa ngomong ‘gue’ dan ‘lo’, itu kan aneh banget.”
Dicky cemberut. “Shay, you know I can’t get rid talking English with you.”
“Ow, it’s not funny. Aku gamau diliat aneh lagi, Ky. Oke?”
Dengan berat hati Dicky mengangguk. “So... Selamat ulang tahun.”
“Makasih.” Shayna tersenyum dan mencium pipi Dicky.
Dicky tersenyum, lalu Shayna tertawa. “Ngapain lo senyum-senyum sendiri? Eh, ngomong-ngomong udah mau nyampe!” katanya senang.
“Iyaiya. Eh, Shay... Lo bisa sampe malem gitu ga?” tanyanya. Dicky ada rencana khusus untuk Shayna.
“Bisa lah, lo kira gue umur berapa? Eh jangan bilang SM*SH mau tampil di PVJ.”
“Iya.” Kata Dicky malu. “Lo bisa dateng kan? Lo mau kan?”
“Lah, gue udah sama lo sekarang. Masa gue mau pulang naik taksi, ya mau lah.” Shayna tertawa. “Ngomong-ngomong kenalin gue sama BISMA!”
“Iyaiya.” Kata Dicky sebal. Kenapa Bisma, kenapa gak Dicky?
Jadi Dicky mengenalkan Shayna pada personil SM*SH yang lain dan Shayna hanya tersenyum kecil pada Bisma. Shayna dan Bisma sempat berbincang-bincang sebentar dan mereka terlihat sangat nyaman berdua, bahkan tertawa bersama. Dicky hanya menatap mereka berdua dengan muka kusut.
“Lo suka sama Shayna kan?” kata Morgan tiba-tiba.
“Apaan sih lo.”
“Ngaku.” Morgan nyengir.
“Ih... Oke, gue suka.” Dicky memutar bola matanya malas.
“Tembak dong.”
“Masalahnya bukan itu, tapi... Gue takut dia nganggep gue sodara doang.” Kata Dicky. Ia menceritakan duduk permasalahannya pada Morgan yang mengangguk-ngangguk entah karena berpikir keras atau sok tahu.
“Menurut gue sih lo bilang aja.” Kata Morgan. “Daripada diambil Bisma.” Tambahnya bercanda.
Dicky menghela napas. “Iya juga sih. Yaudah deh.”
Mereka berputar-putar secara terpisah, tapi tentu saja Shayna bersama Dicky. Yang bikin Dicky super sebel itu karena Bisma juga ikut, dan Shayna nyuekin Dicky.
“Shay... Kok ngobrol sama Bisma terus sih.” Kata Dicky bete.
“Apa lo, biasanya juga nyuekin gue kan? Suka-suka.” Kata Shayna males. “Lagian, kita lagi ngomongin Kayla sih.”
“What? Jadi, Bisma... Lo mau kenalan sama Kayla?”
“Iya, abis kayanya anaknya seru. Cantik juga.” Kata Bisma.
“Oke...” Dicky jadi ngerasa gaenak karena udah nuduh Bisma yang engga-engga. Akhirnya sampe waktunya tampil Shayna nunggu di belakang panggung, ngobrol dengan penata rias dan kostum.
“Oh, jadi ini mbak Shayna yang biasa diomongin sama Mas Dicky.” Kata penata rias.
“Eh, emang Dicky suka ngomongin aku?” tanya Shayna bingung.
“Loh iya ta mbak, sering banget.” Kata penata kostum. Rupanya iya mengikuti pembicaraan penata rias dan Shayna. Shayna hanya terkekeh.
“Aneh-aneh aja dia.”
Sementara itu sehabis tampil di depan, banyak sekali fans SM*SH yang mau bicara untuk bertanya. Shayna penasaran jadi mengintip dari belakang...
“Kak Dicky! Kakak udah punya pacar belom? Kalo belom jadi pacarku dong!” kata seseorang dan Shayna menatapnya marah. Apaan sih, Dicky itu punya gue. He’s mine.
Dicky mukanya terlihat kaget namun tertawa. “Gak, gue belom punya... Tapi ya, ada sih satu cewek yang gue suka. Sayangnya dia gasuka gue.” Tambahnya sedih.
“Aduh, masa sih? Siapa namanya?” tanya fans itu lagi, kebetulan mic nya masih di dia.
“Dia sekarang dateng sama gue sih...” katanya malu.
Napas Shayna tercekat.
Dicky.
Suka.
Shayna.
Shayna jatuh terduduk di lantai saking kagetnya. Ia tidak percaya. Tapi itu sungguh terjadi. Dicky baru bilang ke salah satu fansnya kalo dia suka sama Shayna. Walaupun tidak menyebutkan nama, tapi jelas itu Shayna. Shayna sampai pusing dan ia tidak memperhatikan apa yang terjadi selanutnya.
“MBAK SHAYNA!” penata rias menatapnya kaget.
“Aduh, mbak Shayna nya jatuh?” kata penata kostum.
“Gimana nih...”
“Nggak apa-apa kok, cuma agak kaget aja.” Shayna menenangkan.
“Bener nih mbak?” tanya penata riasnya.
“Bener.”
Personil-personil SM*SH satu persatu masuk ke dalam. Dicky terakhir masuk dan melihat Shayna.
“Shayna, lo jatuh? Aduh kok bisa jatuh...” katanya panik lalu membantu Shayna berdiri. Shayna menolak dan menahan tangan Dicky.
“Dicky, tell me now. Do you really like me?” tanya Shayna. Ia memutuskan untuk berbicara dengan bahasa Inggris, karena ia tahu Dicky masih ingin berbicara seperti dulu lagi, hanya karena Shayna melarang ia tidak melakukannya.
“Shayna... I do. I think I love you, not just a simple crush. No, Shay, I love you.” Kata Dicky.
Shayna menghela napas panjang. “I love you too.”
THE END
Translations
Mom, I don’t want to talk to him. He’s got cooties. = Ma, aku gamau ngomong sama dia. Dia berpenyakit.
What? Why cooties. I don’t have cooties. = Apa? Kenapa penyakit. Aku ga punya penyakit kaya gitu.
You do... = Kamu punya.
Go on, sunshine. Boys don’t have cooties, anyway. = Ayo, sayang. Laki-laki gapunya penyakit seperti itu.
Ok... Mom. Um, my name is Shayna. = Oke, ma. Em, namaku Shayna.
I’m Dicky. = Aku Dicky.
Um... Nice to meet you. = Emmm salam kenal.
Nice to meet you too. = Salam kenal juga.
Shayna, sweetie, you don’t want to play with the girls? = Shayna, kamu gamau main sama anak-anak cewek yang lain?
No daddy, Dicky is cool. = gak pa, Dicky seru kok.
How about you, Dicky?  = gimana dengan kamu, Dicky?
Nope Dad.  = Gak, yah.
Ah... Then we will just have to wait, I guess. = Kalo gitu kita tinggal nunggu, sepertinya.
Wait for what, Daddy? = nunggu apaan, pa?
The wedding, of course. = Pernikahannya, lah.
Trust me. = Percaya padaku.
WHAT! I am so not going to marry him. = APA! Aku ga akan nikah sama dia!
I don’t want to marry you. = Aku gamau nikah sama kamu.
What, I don’t wanna marry you either. = Apa, aku juga gamau nikah sama kamu.
Oh, My. = astaga
They are old farts, sweetie. You don’t have to marry each other. = mereka orang-orang tua nyebelin. Kalian gausah menikah kok.
Really? = beneran?
Yeah, really. = iya, beneran.
Okay. Dicky, I’m sorry. = oke. Dicky, maaf.
Me too. = aku juga.
Shay, let’s run. Get away from her. She’s EVIL! = Shay, ayo lari. Kabur. Dia jahat.
Sorry, Kay, you’re really evil now. = Maaf Kay, tapi kamu emang lagi jahat.
Ouch! Dicky... It hurts.  = Aduh! Dicky... Sakit.
Don’t cry. I’ll help you. Mom always kissed my wounds. It gets better. = Jangan nangis, sini aku bantu. Mama selalu mencium lukaku, dan jadi membaik.
You’re welcome. = Sama-sama
Hmm.. You could kiss me. I know you want to. = Hmm, kamu boleh cium aku. Aku tau kamu mau.
Could I? = Aku boleh nih?
Sure. Now, one two... = Tentu. Sekarang, satu... Dua...
Poor ya! Not getting any!  = Kasian deh ga dapet apa-apa!
Happy birthday Shayna! Ah, now you’re sixteen! = Selamat ulang tahun Shayna! Sekarang kamu udah 16 tahun...
Shay, you know I can’t get rid talking English with you. = Shay, kamu tau aku gabisa kalo ga ngomong bahasa Inggris sama kamu.
Ow, it’s not funny = Ah, galucu
Dicky, tell me now. Do you really like me? = Dicky, kasih tau aku sekarang. Kamu beneran suka sama aku?
Shayna... I do. I think I love you, not just a simple crush. No, Shay, I love you. = Shayna, beneran. Aku bahkan sayang sama kamu, bukan suka-sukaan doang. Shay, aku sayang sama kamu.
I love you too. = Aku sayang sama kamu juga.


Pelangi Shafira Maharani
@AnggieeMrz
Al-Izhar Pondok Labu

Jakarta, Jawa Barat

27 komentar:

  1. KEREEEEEN!!! 2 thumbs up deh :D

    BalasHapus
  2. bahasa inggrisnya msh byk yg salah...hehehe...
    belajar lagi ya...semangat!! :)

    BalasHapus
  3. KEREN !!!!!! I LOVE THIS POST SO MUCH ! PLEASE MAKE THIS ON PART TWO :)

    BalasHapus
  4. bagus ih.. :)

    BalasHapus
  5. it's so niceeeee

    BalasHapus
  6. bikin lagiii doong!! seruuuuuuuuuuuuuuuu! >.<

    BalasHapus
  7. that's good i like this

    BalasHapus
  8. enak ada bahasa ingrrisnya buat lagi donk plese....

    BalasHapus
  9. bagus...bisa sekalian belajar bhs inggris tapi pusing juga sih awalnya

    BalasHapus
  10. inggrisnya bagus.... haha yang lucu cooties wkwwk

    BalasHapus
  11. yah, banyakan bhs inggrisnya, aku kan gak bisa bhs inggris. tapi, 2 thumbs for you..

    BalasHapus
  12. ceritanya seru, I like this
    :D

    BalasHapus
  13. saiia suka,
    saiia suka,

    BalasHapus
  14. kocak ceritanya... aku suka hahaha :D

    BalasHapus
  15. KEREN BANGET KAKKKK!!!
    aku suka suka sukaaaa <3

    BalasHapus
  16. SMASH_BLAST FANADICKY26 November 2011 19.08

    Seru!TP BIKIN JEALOUS!:)

    BalasHapus
  17. like like like..
    i like this...
    keren bgt ceritanya...
    t o p b g t
    kereeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeennnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn........................................................................................... bgt!









    bagus baku ska bgt+bikin iri, sedikit....

    BalasHapus
  18. Bagus+Hebat+Keren!! :D
    Keep working on it!! (y)

    BalasHapus
  19. keren banget, aku suka :)
    penulisnya jago bahasa inggris ya??

    BalasHapus
  20. keren banget ceritanya,aku suka .buatin yang part 2 dong

    BalasHapus
  21. Bahasa inggrisnya keren ;D
    Penulisnya mantep nih, dikasih 2 jempol deh :D

    BalasHapus
  22. o.o bagus banget *cm bs mlongo

    ^_^ Nadya ^_^

    BalasHapus

Respect n Comment: